TUGAS
Ernawati
Nim 17010101091
Kelas PAI B 4
PENGEMBANGAN PROFESI GURU
Ernawati
Nim 17010101091
Kelas PAI B 4
PENGEMBANGAN PROFESI GURU
A.
Guru sebagai Penulis KTI
suatu Keniscayaan
Kemampuan
mendasar dari karya ilmiah adalah menulis. Menulis merupakan salah satu
kemampuan bahasa yang harus dimiliki oleh setiap orang apalagi seoarang guru.
Menulis dalam arti komunikasi adalah suatu sarana untuk menyampaiakan bubah
pikiran, gagasan, ide, pengetahuan, harapan, dan pesan. Menulis bagi guru
menjadi masalah yang cukup dilematik, antara esensi kemampuan diri yang tidak
bias dipaksakan dengan syarat, tugas dan tuntutan keilmuan (Profesionalisme).
Padahal menulis mempunyai peranan yang cukup tinggi dan stategis. Menurut
Tompkins (1998), masyarakat yang tidak mampu mengekspresikan pikiran dalam
bentuk tulisan, akan tertinggal jauh dari kemajuan karena kegiatan menulis
dapat mendorong perkembangan intelektual seseorang sehingga mampu berpikir kritis.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Targigan (1992) bahwa indikasi kemajuan suatu
bangsa dapat dilihat dari maju tidaknya komunikasi tulis bangsa itu. Menulis
itu sulit! Tidak semua orang bias menulis! Menulis itu perlu bakat! Saya tidak
punya bakat menulis! Saya tidak mampu menulis! Saya tidak ada waktu menulis!
Saya sibuk! Saya sudah tua! Saya capai dan letih setelah seharian mengajar!
Itulah beberapa ungkapan dari beberapa guru ketika saya melakukan pendampingan
dalam suatu workshop karya tulis illmiah (KTI). Pertanyaan besar yang
muncul dari benak penulis adalah: apakah benar menulis itu sulit? Apakah benar
menulis itu perlu bakat dan tidak semua orang mempnyai bakat menulis? Apakah
benar usia yang tua menjadi penghalang untuk menulis? Apakah benar guru tidak
mamppu menulis? Dan apakah benar guru tidak mempunyai waktu untuk menulis?
Menurut
hemat penulis, menulis itu tidak sulit alias mudah, bahkan sangat mudah.
Menurut penulis muda produktif Andrias Harefa, keterampilan menulis, apakah
fiksi (cerpen, novel da sebagainya) maupun nonfiksi (artikel, buku dan
sebagainya ) adalah keteraampilan sekolah dasar alias SD. Artinya, sampai batas
tertentu semua orang yang telah tamat SD bias menulis dan mengarang. Adam
Malik, wartawan yang pernah jadi Wakil Presidan era Orde Baru, hanya menduduki
bangku sekolah sampai kelas 5 SD. Namun, orang mengakui bahwa belliau adalah
wartawan yang pandai menulis.
Hal ini diperkuat lagi oleh
pendapat beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta yang
mengatakan baahwa menulis itu sangat mudah. Kalau tidak percaya, baca saja
bukunya yang berjudul Menggebak Dunia Mengarang. Bahkan sang penulis
senior Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang. Tidak juga
percaya? Baca saja bukunya Menulis Itu Gampang. Hernowo, lelaki kelahiran
magelang yang kini menjadi penulis best seller yang sangat produktif
dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menlis itu sangat mudah.
Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru yang Mau dan Mampu
Membuat Buku. Berbagai kiat aatau resep menulis ditawarkan kepada guru.
Dalam kata pengatar di bukunya, hernowo berpesan dan berharap bahwa beliau
ingin para pengajar (guru) di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para
siswanya. Saya ingin sekali para pengajar (guru) itu dapat memperkaya para
siswanya dengan cerita-cerita yang mngasyikkan, ditulis oleh mereka di
karya-karya tulis mereka. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis?
Lebih
lanjut Andrias Harefa menguraikan dalam bukunya yang berjudul Agar Menulis
Mengarang Bisa Gampan bahwa ada beberapa tips agar mudah menulis dan
mengarang yakni sebagai berikut.
1.
Menulis dan mengarang
adalah keterampilan sekolah dasar (SD). Bisakah Anda mengatakan kepada diri
Anda sendiri bahwa “Saya pasti bias menulis dan mengarang, sebab menulis dan
mengarang adalah keterampilan sekolah dasar.”
2.
Menulis dan mengarang harus
mempunyai visi dan motivasi yang jelas. Menulis dan mengarang hanya bias
gampang kalau ada tujuan, visi, dan sasaran yang membangkitkan motivasijuang untuk
menulis.
3.
Rajinlah
“mengunyang-ngunyah” pertanyaan, dan Anda akan mudah menemukan Ide-ide yang
bias ditulis, sehingga menulis dan mengarang bias jadi gampang.
4.
Menulis dan mengarang bias
gampang kalau kita punya cinta. Segampang seorang remaja belia menulis
puisi-puisi romantic ketika merasa sedang “jatuh cinta”.
5.
Ciptakan suasana yang dapat
memicu ide Anda. Pendek kata, pemicu ide ada dimana-mana. Yang dibutuhkan
hanyalah suasana hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati situasi sekitar.
6.
Bagi siapa saja yang baru
tahap belajar menulis dan mengarang ingatlah tiga N, yakni: Niteni
(menandai), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahkan).
7.
Menulis dan mengarang bias
gampang kalau kita punya komitmen, kesungguhan hati, determinasi atau tekad
bulat. Menulis dn mengarang bias gampang kalau kita punya keyakinan dan
kepercayaan diri yang tinggi bahwa kita “bias”. Menulis dan mengarang bias
gampang kalau kita punya minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu
yang kita yakini sebagai “kebenaran” atau sekurang-kurangnya lebih dekat dengan
“kebenaran” itu.
8.
Memiliki komitmen yang
tinggi. Jadi, menulis dan mengarang bisa gampang kalau ada komitmen, janji pada
diri sendri dan konsisten terhadap apa yang sudah menjadi komitmen tersebut.
9.
Menulis dan mengarang bisa gampang
kalau Anda membiasakan diri untuk membaca secara teratur.
10.
Khusus untuk para sarjana
yang sempat menuliskan skripsi di kampus dulu, sekurang-kurangnya Anda
berpotensi menjadi penulis dan pengarang karena telah mampu membuat skripsi
sebagai persyaratan kesarjanaannya.
11.
Harus mampu membaaca mutu
dan pasar. Jadi , sepanjang Anda bersedia belajar untuk memahami pengertian
“mutu” dari berbagai media dan penerbit yang Anda incar, serta mampu memahami
“selera pasar” dari segmen pembaca yang disasar, yakinlah bahwa tulisan dan
karangan Anda akan dimuat atau diterbitkan dampak dari keyakinan ini adalah
munculnya kegairahan dalam proses menulis dan mengarang. Sehingga menjadi
gampang.
12.
Sekalipun saat ini
penghasilan seorang penulis umumnya belum cukp baik, tetapi arahnya semakin
baik di era knowledge economy ini. Masyarakat makin disadarkan akan
pentingnya pengetahuan.
13.
Mengembangkan ide. Pada
tahap awal sangat diperlukan buku-buku referensi seperti kamus dan
ensiklopedia. Bukan Cuma kamus bahasa, mungkin juga kamus ilmu social, kamus
perbankan, kamus filsafat, kamus teologi, dan sebagainya.
14.
Memilah dan memilih topic.
Rasa ingin tahu harus dipelihara dan ditingkatkan kea rah survey atau riset
sederhana, entah di took buku, di lapangan atau di internet. Lalu semua topic
yang muncul diinvestarisasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih luas dan
jelas.
15.
Menentukan judul tulisan.
Sebuah judul tulisan atau karangan sedikitnya harus diyakini mampu menjalankan
“tugasnya”, yakni menarik perhatian sambil menggelitik minat pembaca dan
menjelaskan secara singkat inti gagasan yang ingin disampaikan.
Kita sering mendengar bahwa
kemampuan menulis (fiksi maupun nonfiksi) dari para guru masih rendah. Banyak
bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Pertama,
banyak para guru yang kenaikan pangkatnya tertahan di golongan IVA karena
untuk naik ke golongan, IVB para guru harus memenuhi unsur pengembangan profesi
yang di dalamnya guru diminta menyusun karya tulis ilmiah (KTI) yang bobotnya
12 angka kredit. Dari 1.461.12 guru saat ini, ditinjau dari golongan atau ruang
kepangkatan guru tercatat sebanyak 22,87% guru golongan IVA; 0,16% guru
golongan IVB; 0,006% guru golongan IVC; 0,001% guru golongan IVD; dan 0,00%
guru golongan IVE, jenjang kepangkatan guru pada golongan atau ruangan IVA ke
atas menurut status tempat tugas tercatat sebanyak 0,45% guru TK; 15,33% guru
SD; 3,18% guru SLTP Umum; 0,05% guru SLTP Kejujuran; 3,06% guru SMA; 1,25% guru
SMK; dan 0,05% guru SLB (Badan Kepagawain Nasional, 2005).
Kedua, cobalah kita amati
buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko
buku. Hitunglah beberapa banyak buku yang ditulis oleh para guru.
Membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para
guru. Membaca jurnal pendidikan? Hitunglah beberapa artikel pendidikan yang
ditulis guru. Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis?
Atau malas menlis? Atau tidak punya waktu untuk menulis? Jawabannya pasti
bermacam-macam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit para guru yang
mau menulis. Renndahnya budaya menulis (meneliti) ternyata dialami juga oleh
dosen. Menurut Mien A. Rifai, APU, penilai hibah bersaing Dikti Depdiknas dari
180.000 dosen di Indonesia, diperkiakan hanya sekitar 1,1 persen yang mampu
meneliti secara layak dan ini berimplikasi pada rendahnya publikasi ilmiah dari
dosen Indonesia di jurnal internasional. Data dari penerbit Internasional
menyebutkan kontribusi dosen Indonesia jurnal intnasional hanya 0,012 persen,
lebih rendah dari Nepal yang mampu menyumbang 0,014 persen dan singapuran 0,179
persen (Kompas, 23/1/2008).
Dilihat dari perspektif guru
sebagai subjek, dan sebaai praktisi pendidikan, sesungguhnya para guru memiliki
potensi dan kesempatan menulis yang sangat besar. Guru sebenarnya memiliki
segudang bahan yang bisa dijadikan tulisan. Guru bisa menulis tentang
pengalaman pribadi berkaitan dengan Pembelajaran yang dilaksanakan di dalam
kelas. Guru bisa menulis buku mata pelajaran sesuai yang diampunya. Guru bisa
menulis tentang suka duka menjadi gru. Guru juga bisa menlis berbagai tema
seputar persoalan pendidikan yang tidak akan pernah habis dan kering untuk
dijadikan bahan tulisan, dengan catatan guru tersebut mau dan mau menulis. Jadi
persoalannya sekarang terletak pada para guru tersebut, apakah mempunyai tekad
yang kuat untuk menulis atau tidak.
Menulis lebih banyak ditentukan
oleh kemauan dan ketekunan, bukan dari kemampuan. Kemauan dan ketekunan untuk
melakukan ATM yakni amati, tiru dan modifikasi. Karya tulis ilmiah dimulai dari
proses mengamati dari karya tulis orang lain, kemudian ditiru untuk
dimodifikasi dengan memasukkan gagasan-gagasan sendiri, sehingga menghasilkan
karya tulis baru yang menarik dan berkualitas. Para ilmuwan yang telah
menghasilkan karya besar Albert Einstein, Newton, Thomas Khun, Max Weber, dan
ilmuwan besar lainnya adalah berdiri di atas pundak ilmuwan sebelumnya. Jadi
dalam dunia keilmuan proses meniru, mengamati dan memodifikasi adalah sesuatu
yang biasa dan itu merupakan cikal bakal lahirnya ilmu. Meminjam teorinya Hegel
adalah dengan adanya resa, antitesa, dan sintesa (teori dialektikal).
Selain guru bisa dan harus menulis
ilmiah nonpenelitian, guru juga bisa menulis karya tulis ilmiah (KTI) hasil
penelitian, yang salah satunya adalah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK).
Denga melakukan PTK, diharapkan akan mengubah citra terhadap guru dan
mmeningkatkan keterampilan professional sebaai guru. Guru bisa menylesaikan
permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar (PBM) di kelasnya
secara ilmiah. Hal ini akan mendorong guru untuk lebih kreatif dan inovatif
dalam melaksanakan pembelajaran di kelasnya. Dan akhirnya mutu atau kualitas
PBM akan selalu meningkat dari waktu ke waktu.
Kemampuan guru untuk meneliti akan
meningkatkan kinerja dalam profesinya sebagai pendidik. Namun, kegiatan
meneliti yang dilakukan oleh seorang guru harus dikelola dengan baik, sehingga
tidak mengganggu tugas pokoknya mengajar dan mendidik siswa. Oleh karena itu,
ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru yang sedang melakukan penelitian,
yakni sebagai berikut.
a.
Tugas untama seorang guru
adalah mengajar dan mendidik sehingga aktivvitas PTK jangan sampai menggangu
tugas utama tersebut
b.
Teknik pengumpulan data
jangan terlalu menyita banyak waktu. Pilihlah teknik-teknik pengumpulan data
yang efisien dan relevan dengan kebutuhan dan asalah PTK.
c.
Penelitian tindakan kelas
yang dilaksakan guru sudah diakrabi langkah-langkahnya terlebih dahulu sehingga
pelaksanaan PTK berjalan dengan baik dan lancer.
d.
Masalah yang diangkat dalam
PTK harus benar0benar sesuai dengan bidang tugasnya sehingga dalam
pelaksanaannya penuh dengan semangat dan minat yang tinggi. Hal ini akan
menyebabkan prses PTK berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa
mengalami halangan yang berarti.
Masalah lain yang cukup penting
berkaitan dengan PTK adalah banyaknya rekan guru yang mengeluh karena hasil
karya tulis ilmiah yang dikirim ke tim penilai masih belum diterima. Hal ini
sering membuat para guru kecewa dan sedikit mengalami frustasi. Agar ini tidak
terjadi, menuut Suharsimi Arikunto (2006), ada beberrapa persyaratan, yaitu
sebagai berikut.
a. Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenail hal-hal
yang terjadi di dalam pembelajaran (tetapi bukan hanya pembelajran biasa) dan
diharapkan dapat meningkatkan kualitas atau mutu pembelajaran.
b. Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukannya
pencermatan secara terus-menerus, objektif dan sistematis, artinya dicatat atau
direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilannya
yang diperoleh peneliti serta penyimpangan yang terjadi. Hasil pencermatan
tersebut digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus
diambil segera oleh peneliti.
Penelitian tindakan kelas harus dilakukan
sekurang-kurannya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. Informasi dari
siklus yang terdahlu sangat menentukan bentuk siklus berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar