Minggu, 31 Maret 2019

PENGEMBANGAN PROFESI GURU

TUGAS


Ernawati
Nim 17010101091
Kelas PAI B 4

PENGEMBANGAN PROFESI GURU


A.      Guru sebagai Penulis KTI suatu Keniscayaan
        Kemampuan mendasar dari karya ilmiah adalah menulis. Menulis merupakan salah satu kemampuan bahasa yang harus dimiliki oleh setiap orang apalagi seoarang guru. Menulis dalam arti komunikasi adalah suatu sarana untuk menyampaiakan bubah pikiran, gagasan, ide, pengetahuan, harapan, dan pesan. Menulis bagi guru menjadi masalah yang cukup dilematik, antara esensi kemampuan diri yang tidak bias dipaksakan dengan syarat, tugas dan tuntutan keilmuan (Profesionalisme). Padahal menulis mempunyai peranan yang cukup tinggi dan stategis. Menurut Tompkins (1998), masyarakat yang tidak mampu mengekspresikan pikiran dalam bentuk tulisan, akan tertinggal jauh dari kemajuan karena kegiatan menulis dapat mendorong perkembangan intelektual seseorang sehingga mampu berpikir kritis.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Targigan (1992) bahwa indikasi kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari maju tidaknya komunikasi tulis bangsa itu. Menulis itu sulit! Tidak semua orang bias menulis! Menulis itu perlu bakat! Saya tidak punya bakat menulis! Saya tidak mampu menulis! Saya tidak ada waktu menulis! Saya sibuk! Saya sudah tua! Saya capai dan letih setelah seharian mengajar! Itulah beberapa ungkapan dari beberapa guru ketika saya melakukan pendampingan dalam suatu workshop karya tulis illmiah (KTI). Pertanyaan besar yang muncul dari benak penulis adalah: apakah benar menulis itu sulit? Apakah benar menulis itu perlu bakat dan tidak semua orang mempnyai bakat menulis? Apakah benar usia yang tua menjadi penghalang untuk menulis? Apakah benar guru tidak mamppu menulis? Dan apakah benar guru tidak mempunyai waktu untuk menulis?
        Menurut hemat penulis, menulis itu tidak sulit alias mudah, bahkan sangat mudah. Menurut penulis muda produktif Andrias Harefa, keterampilan menulis, apakah fiksi (cerpen, novel da sebagainya) maupun nonfiksi (artikel, buku dan sebagainya ) adalah keteraampilan sekolah dasar alias SD. Artinya, sampai batas tertentu semua orang yang telah tamat SD bias menulis dan mengarang. Adam Malik, wartawan yang pernah jadi Wakil Presidan era Orde Baru, hanya menduduki bangku sekolah sampai kelas 5 SD. Namun, orang mengakui bahwa belliau adalah wartawan yang pandai menulis.
Hal ini diperkuat lagi oleh pendapat beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta yang mengatakan baahwa menulis itu sangat mudah. Kalau tidak percaya, baca saja bukunya yang berjudul Menggebak Dunia Mengarang. Bahkan sang penulis senior Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang. Tidak juga percaya? Baca saja bukunya Menulis Itu Gampang. Hernowo, lelaki kelahiran magelang yang kini menjadi penulis best seller yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menlis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai kiat aatau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengatar di bukunya, hernowo berpesan dan berharap bahwa beliau ingin para pengajar (guru) di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para siswanya. Saya ingin sekali para pengajar (guru) itu dapat memperkaya para siswanya dengan cerita-cerita yang mngasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis?
       Lebih lanjut Andrias Harefa menguraikan dalam bukunya yang berjudul Agar Menulis Mengarang Bisa Gampan bahwa ada beberapa tips agar mudah menulis dan mengarang yakni sebagai berikut.
1.       Menulis dan mengarang adalah keterampilan sekolah dasar (SD). Bisakah Anda mengatakan kepada diri Anda sendiri bahwa “Saya pasti bias menulis dan mengarang, sebab menulis dan mengarang adalah keterampilan sekolah dasar.”
2.       Menulis dan mengarang harus mempunyai visi dan motivasi yang jelas. Menulis dan mengarang hanya bias gampang kalau ada tujuan, visi, dan sasaran yang membangkitkan motivasijuang untuk menulis.
3.       Rajinlah “mengunyang-ngunyah” pertanyaan, dan Anda akan mudah menemukan Ide-ide yang bias ditulis, sehingga menulis dan mengarang bias jadi gampang.
4.       Menulis dan mengarang bias gampang kalau kita punya cinta. Segampang seorang remaja belia menulis puisi-puisi romantic ketika merasa sedang “jatuh cinta”.
5.       Ciptakan suasana yang dapat memicu ide Anda. Pendek kata, pemicu ide ada dimana-mana. Yang dibutuhkan hanyalah suasana hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati situasi sekitar.
6.       Bagi siapa saja yang baru tahap belajar menulis dan mengarang ingatlah tiga N, yakni: Niteni (menandai), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahkan).
7.       Menulis dan mengarang bias gampang kalau kita punya komitmen, kesungguhan hati, determinasi atau tekad bulat. Menulis dn mengarang bias gampang kalau kita punya keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa kita “bias”. Menulis dan mengarang bias gampang kalau kita punya minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu yang kita yakini sebagai “kebenaran” atau sekurang-kurangnya lebih dekat dengan “kebenaran” itu.
8.       Memiliki komitmen yang tinggi. Jadi, menulis dan mengarang bisa gampang kalau ada komitmen, janji pada diri sendri dan konsisten terhadap apa yang sudah menjadi komitmen tersebut.
9.       Menulis dan mengarang bisa gampang kalau Anda membiasakan diri untuk membaca secara teratur.
10.   Khusus untuk para sarjana yang sempat menuliskan skripsi di kampus dulu, sekurang-kurangnya Anda berpotensi menjadi penulis dan pengarang karena telah mampu membuat skripsi sebagai persyaratan kesarjanaannya.
11.   Harus mampu membaaca mutu dan pasar. Jadi , sepanjang Anda bersedia belajar untuk memahami pengertian “mutu” dari berbagai media dan penerbit yang Anda incar, serta mampu memahami “selera pasar” dari segmen pembaca yang disasar, yakinlah bahwa tulisan dan karangan Anda akan dimuat atau diterbitkan dampak dari keyakinan ini adalah munculnya kegairahan dalam proses menulis dan mengarang. Sehingga menjadi gampang.
12.   Sekalipun saat ini penghasilan seorang penulis umumnya belum cukp baik, tetapi arahnya semakin baik di era knowledge economy ini. Masyarakat makin disadarkan akan pentingnya pengetahuan.
13.   Mengembangkan ide. Pada tahap awal sangat diperlukan buku-buku referensi seperti kamus dan ensiklopedia. Bukan Cuma kamus bahasa, mungkin juga kamus ilmu social, kamus perbankan, kamus filsafat, kamus teologi, dan sebagainya.
14.   Memilah dan memilih topic. Rasa ingin tahu harus dipelihara dan ditingkatkan kea rah survey atau riset sederhana, entah di took buku, di lapangan atau di internet. Lalu semua topic yang muncul diinvestarisasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih luas dan jelas.
15.   Menentukan judul tulisan. Sebuah judul tulisan atau karangan sedikitnya harus diyakini mampu menjalankan “tugasnya”, yakni menarik perhatian sambil menggelitik minat pembaca dan menjelaskan secara singkat inti gagasan yang ingin disampaikan.

Kita sering mendengar bahwa kemampuan menulis (fiksi maupun nonfiksi) dari para guru masih rendah. Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Pertama, banyak para guru yang kenaikan pangkatnya tertahan di golongan IVA karena untuk naik ke golongan, IVB para guru harus memenuhi unsur pengembangan profesi yang di dalamnya guru diminta menyusun karya tulis ilmiah (KTI) yang bobotnya 12 angka kredit. Dari 1.461.12 guru saat ini, ditinjau dari golongan atau ruang kepangkatan guru tercatat sebanyak 22,87% guru golongan IVA; 0,16% guru golongan IVB; 0,006% guru golongan IVC; 0,001% guru golongan IVD; dan 0,00% guru golongan IVE, jenjang kepangkatan guru pada golongan atau ruangan IVA ke atas menurut status tempat tugas tercatat sebanyak 0,45% guru TK; 15,33% guru SD; 3,18% guru SLTP Umum; 0,05% guru SLTP Kejujuran; 3,06% guru SMA; 1,25% guru SMK; dan 0,05% guru SLB (Badan Kepagawain Nasional, 2005).
Kedua, cobalah kita amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko  buku. Hitunglah beberapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Membaca jurnal pendidikan? Hitunglah beberapa artikel pendidikan yang ditulis guru. Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Atau malas menlis? Atau tidak punya waktu untuk menulis? Jawabannya pasti bermacam-macam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit para guru yang mau menulis. Renndahnya budaya menulis (meneliti) ternyata dialami juga oleh dosen. Menurut Mien A. Rifai, APU, penilai hibah bersaing Dikti Depdiknas dari 180.000 dosen di Indonesia, diperkiakan hanya sekitar 1,1 persen yang mampu meneliti secara layak dan ini berimplikasi pada rendahnya publikasi ilmiah dari dosen Indonesia di jurnal internasional. Data dari penerbit Internasional menyebutkan kontribusi dosen Indonesia jurnal intnasional hanya 0,012 persen, lebih rendah dari Nepal yang mampu menyumbang 0,014 persen dan singapuran 0,179 persen (Kompas, 23/1/2008).
Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, dan sebaai praktisi pendidikan, sesungguhnya para guru memiliki potensi dan kesempatan menulis yang sangat besar. Guru sebenarnya memiliki segudang bahan yang bisa dijadikan tulisan. Guru bisa menulis tentang pengalaman pribadi berkaitan dengan Pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas. Guru bisa menulis buku mata pelajaran sesuai yang diampunya. Guru bisa menulis tentang suka duka menjadi gru. Guru juga bisa menlis berbagai tema seputar persoalan pendidikan yang tidak akan pernah habis dan kering untuk dijadikan bahan tulisan, dengan catatan guru tersebut mau dan mau menulis. Jadi persoalannya sekarang terletak pada para guru tersebut, apakah mempunyai tekad yang kuat untuk menulis atau tidak.
Menulis lebih banyak ditentukan oleh kemauan dan ketekunan, bukan dari kemampuan. Kemauan dan ketekunan untuk melakukan ATM yakni amati, tiru dan modifikasi. Karya tulis ilmiah dimulai dari proses mengamati dari karya tulis orang lain, kemudian ditiru untuk dimodifikasi dengan memasukkan gagasan-gagasan sendiri, sehingga menghasilkan karya tulis baru yang menarik dan berkualitas. Para ilmuwan yang telah menghasilkan karya besar Albert Einstein, Newton, Thomas Khun, Max Weber, dan ilmuwan besar lainnya adalah berdiri di atas pundak ilmuwan sebelumnya. Jadi dalam dunia keilmuan proses meniru, mengamati dan memodifikasi adalah sesuatu yang biasa dan itu merupakan cikal bakal lahirnya ilmu. Meminjam teorinya Hegel adalah dengan adanya resa, antitesa, dan sintesa (teori dialektikal).
Selain guru bisa dan harus menulis ilmiah nonpenelitian, guru juga bisa menulis karya tulis ilmiah (KTI) hasil penelitian, yang salah satunya adalah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Denga melakukan PTK, diharapkan akan mengubah citra terhadap guru dan mmeningkatkan keterampilan professional sebaai guru. Guru bisa menylesaikan permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar (PBM) di kelasnya secara ilmiah. Hal ini akan mendorong guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelasnya. Dan akhirnya mutu atau kualitas PBM akan selalu meningkat dari waktu ke waktu.
Kemampuan guru untuk meneliti akan meningkatkan kinerja dalam profesinya sebagai pendidik. Namun, kegiatan meneliti yang dilakukan oleh seorang guru harus dikelola dengan baik, sehingga tidak mengganggu tugas pokoknya mengajar dan mendidik siswa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru yang sedang melakukan penelitian, yakni sebagai berikut.
a.       Tugas untama seorang guru adalah mengajar dan mendidik sehingga aktivvitas PTK jangan sampai menggangu tugas utama tersebut
b.      Teknik pengumpulan data jangan terlalu menyita banyak waktu. Pilihlah teknik-teknik pengumpulan data yang efisien dan relevan dengan kebutuhan dan asalah PTK.
c.       Penelitian tindakan kelas yang dilaksakan guru sudah diakrabi langkah-langkahnya terlebih dahulu sehingga pelaksanaan PTK berjalan dengan baik dan lancer.
d.      Masalah yang diangkat dalam PTK harus benar0benar sesuai dengan bidang tugasnya sehingga dalam pelaksanaannya penuh dengan semangat dan minat yang tinggi. Hal ini akan menyebabkan prses PTK berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa mengalami halangan yang berarti.
        Masalah lain yang cukup penting berkaitan dengan PTK adalah banyaknya rekan guru yang mengeluh karena hasil karya tulis ilmiah yang dikirim ke tim penilai masih belum diterima. Hal ini sering membuat para guru kecewa dan sedikit mengalami frustasi. Agar ini tidak terjadi, menuut Suharsimi Arikunto (2006), ada beberrapa persyaratan, yaitu sebagai berikut.
a.     Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenail hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran (tetapi bukan hanya pembelajran biasa) dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas atau mutu pembelajaran.
b.      Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukannya pencermatan secara terus-menerus, objektif dan sistematis, artinya dicatat atau direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilannya yang diperoleh peneliti serta penyimpangan yang terjadi. Hasil pencermatan tersebut digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti.
Penelitian tindakan kelas harus dilakukan sekurang-kurannya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. Informasi dari siklus yang terdahlu sangat menentukan bentuk siklus berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGEMBANGAN PROFESI GURU

TUGAS Ernawati Nim 17010101091 Kelas PAI B 4 PENGEMBANGAN PROFESI GURU A.       Guru sebagai Penulis KTI suatu Keniscayaan   ...